The Kite Runner ; There is a way to be a good again...
The Kite Runner. Oleh Khaled Hosseini. Buku itu sudah lama selesai kubaca. Bahkan kemarin aku baru saja membeli DVD cassette untuk filmnya. Kekagumanku akan penulis novel itu tak bisa berhenti. Sungguh cerita yang apik dan sangat menyentuh. Tadinya buku ini juga adalah referensi dari seorang sahabat. Uzer. Tak sengaja terlihat, setelah kami berlama-lama mencari-cari buku di Gramedia Mal Taman Anggrek. Buku dengan 616 halaman itu juga tidak dengan cepat aku selesaikan. Lumayan dicicil untuk membacanya. Karena merupakan satu bagian selingan untuk waktu kerjaku yang juga membutuhkan konsentrasi tinggi.
Mungkin dua minggu aku baru menyelesaikan buku ini. Aku juga lupa. Mungkin karena sudah lama berlalu. Dan mungkin juga karena aku selingi dengan membaca buku Ayat-Ayat Cinta, oleh Habiburrahman El Shirazy.
Lalu kenapa baru sekarang aku menulisnya dan ingin membaginya?. Karena aku baru saja menonton filmnya. Dan seperti biasa, sebuah wujud visualisasi tetap masih belum mampu membangkitkan rasa puasku dengan tulisan-tulisan dalam sebuah Novel. Sedikit mengecewakan memang. Tapi begitulah adanya. Aku juga masih pesimis dengan tayangan visualisasi dari Ayat-ayat Cinta, yang baru akan tayang akhir Februari ini di Cinema.
Kembali untuk kisah The Kite Runner ini, mungkin bisa aku bagi sedikit. Buku -dan sekarang udah ada filmnya- ini bercerita tentang sebuah kisah persaudaraan. Penuh kekuatan. Tentang kasih sayang, penderitaan dan pengkhianatan. Dan aku fikir seorang Khaled Hosseini benar-benar seorang penutur atau mungkin pendongeng yang baik. Dengan kecerdasannya mampu menghadirkan sebuah sisi yang berbeda dari Afghanistan. Yang penuh konflik, kepedihan dan akhirnya menyimpan sebuah kebahagiaan. Novel ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Sehingga kalau kita tidak benar2 menyadari bahwa ini adalah cuma sebuah Novel, mungkin kita akan berfikir ini adalah sebuah memori dari Khaled Hoseini sendiri. Setiap karakter begitu kuat memunculkan emosi yang ada. Tentang kesetiaan dan ketulusan Hassan pada Amir. Pencarian jati diri Amir. Dan pertemanan mereka yang seharusnya adalah persaudaraan mereka.
"For you a thousand times over", itulah yang di ucapkan Hassan pada Amir. Untuk kesetiaannya. Sebagai teman. Yang sebenarnya Amir tak pernah menganggapnya begitu. Dan hal ini yang terus membuat Amir merasa sangat bersalah. Dan cerita terus berkembang tentang bagaimana kehidupan Amir dengan ayahnya. Bagaimana perjuangannya untuk kembali ke Afghanistan, tempat ia mengkhianati Hassan. Memfitnahnya. Ia pun kembali dengan harapan bisa menembus kembali kesalahan2 yang telah diperbuatnya kepada Hassan. and There is a way to be a good again...
Menonton filmnya, membuat aku sedikit merasa kecewa. Merasa senang juga sebenarnya. Karena sudah lama aku tunggu. Mengecewakan karena tidak semuanya bisa ter-visualisasikan dengan baik. Banyak sekali yang harus di-cut. Tapi tetap menyenangkan untuk sebuah kisah haru ini. :-)
...and Dostet Darum ; For you a thousand times over...
...and There is a way to be a good again...
Jay

kemaren sempat liat bukunya di gramedia, tapi belum dibaca. ini jadi referensi aku buat beli nih. heheh
Posted by: i one | March 2, 2008 06:48 AM