KILAS ...
Sudah lima hari setelah aku meng-update blogku di hari Jum'at (05/08) kemarin. Dan beberapa peristiwa pun telah terjadi . (acemm..betul aja!!!!).
Yah...rasa terima kasih pun aku sampaikan padamu yang telah membaca dan membuat empat jam menjadi sebuah irama waktu yang tak berarti apa2. Kita tlah membahas apa yang memang harus kita fikirkan. Dan aku turut bahagia untuk bahagiamu, untuk segala kesenanganmu dan masa depanmu.
Hari sabtu lalu pun menjadi hari yang sangat melelahkan. Tak hanya karena aku harus tetap masuk kerja dan pulang jam 12 malam, tapi juga karena besoknya, Minggu (07/08) menjadi 'hari yang cukup sakral' bagi seluruh keluarga besarku ;Selamat 98. Salah seorang sepupu laki2 ku (baca: KIBOT aka KIKI) menikah. Dan ia pun merubah statusnya menjadi 'KAWIN'. Padahal mungkin status itu tidaklah cocok. Karena mungkin 'KAWIN' tak harus menandatangani beberapa surat dan akta di atas kertas ; cukup dengan Uang.
Dia adalah salah satu sepupu terbaikku. Dari keluarga Ibuku. Dan memang seluruh sepupuku yang berasal dari keluarga ibuku selalu merasa saling memiliki daya magnetis yang kuat untuk hubungan kekeluargaan ; kami merasa sangat sedarah!. Mungkin karena sejak kecil aku selalu tumbuh dan besar bersama mereka. Sejak mulai tumbuh gigi hingga kumis tipisku mulai melebat. Dan ini sangat berbeda serta jauh bertolak belakang keadaannya pada keluarga Papaku. Bahkan dengan mereka mungkin aku tak akan pernah bertemu kalau sejak dulu tradisi 'lebaran' ditiadakan. Di saat semua orang lebih mengenal makna Idul fithri yang sebenarnya ; bukan sebuah tradisi.
Hal ini memang telah terjadi sejak awal aku dilahirkan dan dibesarkan. Tak hanya itu, bahkan aku juga merasa sangat jauh dengan Papa. Aku mengaguminya, tapi aku tak pernah merasa bisa memiliki sebuah persepsi yang sama dengannya. Pandangan kami tentang makna hidup dan masa depan sangat jauh berbeda. Dia cerdas dan pintar. Aku tahu itu. Karena kalau dia tak begitu, mungkin ia tak akan mampu menyelesaikan dua gelar diplomanya dalam waktu yang bersamaan dari sebuah universitas negeri dan dengan biayanya sendiri. Meskipun ia tak mampu menjadi sarjana dengan gelar strata 1, tapi ku yakin itu hanya karena masalah keterbatasan biaya. Ia orang yang cukup ulet dan seorang pekerja keras. Tapi ia tak mampu menjadi orang yang peduli. Kami seperti dua kutub yang sama dan selalu akan bertolak belakang tanpa mau di dekatkan. Ini kurasakan sejak kecil.
Sama seperti ketika aku menyelesaikan sekolah menengahku. Ia bahkan tak pernah bereaksi kalau aku lulus di PTN meskipun dengan pilihan kedua. Ia seperti robot dan mesin uang yang tak pernah berhadapan langsung pada majikan, tapi selalu melalui perantara. Ia selalu membuatku merasa bersalah dengan keadaan yang ada. Merasa bersalah meskipun ia tak peduli.
Hingga kini. Di saat aku tlah merasa dewasa -dan mampu bersetubuh- ia bahkan tak pernah peduli. Tapi aku selalu salute padanya. Atas apa yang ia berikan padaku -juga untuk ketidakpeduliannya- dan selalu membuatku merasa tak pernah berada di rumah. Semoga Yayasan yang menjadi harapan hidupmu dan menjadi cita-cita mulia mu akan selalu tetap berjaya ; Papa.
Jay

