September 22, 2005

*Maaf untuk sebuah kejujuran

*Aku tak bosan dan aku juga tak bahagia
Aku tak menunggu dan aku juga tak ingin di tunggu
Aku tak diam dan aku juga tak berani berbicara
Aku tak bimbang [lagi] dan aku juga [selalu] tak mengerti

*Mungkin aku terlalu berharap
Mungkin aku cukup perasa
Mungkin aku terlalu pasrah
Mungkin aku cukup memaksa

*Konsep berfikir kita memakna hal ini memang berbeda; Dan aku sadar betul akan hal ini.
*Konsep berfikir kita tentang rasa yang selalu tak di benarkan juga masih berbeda; Bahkan aku cukup sadar betul hal itu.

*Hal inilah yang mampu membatasi kita
*Hal itu juga yang selalu membuat kita merasa jauh [bahkan untuk sekarang ini].


Jay.

August 05, 2005

Nafsu Versus Rasa

Masih jauhkah perjalanan ini ?

Mungkin otakku tak mampu memikirkannya…

Apa mungkin ia tak mampu ?

Atau mungkin ia pura-pura ‘tuk tak mampu ?

Sebuah perasaan adalah sebuah kebodohan…

Membuat seseorang menanti tanpa tahu bahwa dirinya dinanti…

Membuat seseorang pasrah tanpa tahu bahwa dirinya dibohongi…

Inikah irama kenyataan ?

Mungkin lebih baik rasa di ganti jadi nafsu

Sehingga nggak membuat orang nangis…

Sehingga nggak membuat orang berharap…

Dan…cukup hanya dengan sebuah pelampiasan.

Mungkinkah nafsu lebih baik dari rasa ?

Pernahkah nafsu membuat orang bahagia ?

Pernahkah nafsu membuat orang menjadi damai ?

Bukan damai sesaat, tapi damai selama-lamanya ?

   Tapi rasa…hanya menunggu nafsu…!

  Ku pikir ; Nafsu dapat menimbulkan rasa

Dan ini hari yang kau tunggu...

Jumat ini, 05 Agustus 2005.

Aku tau hari inilah yang kau nanti. Di saat segenap orang yang sama sepertimu ikut merasakan betapa beratnya jiwa. Dengan rasa penasaran yang selalu membuat dada terasa seperti tertahan. Aku tahu kamu sakit. Dengan dada yang tertahan membuat mata sangat tak nyaman untuk terpejam. Kau begadang. Tapi aku selalu merasa kau orang yang beruntung. Beruntung dengan keadaan yang selalu ada di hidupmu. Masih ada waktu empat jam lagi, untuk bisa berdalih menukar beratnya jiwamu dengan segenap kebahagiaan sementara. Untuk sebuah simalakama; antara bahagia dan menangis.

Mungkin ketika kau nikmati bahagia nanti, justru aku yang menangis. Atau bahkan sebaliknya??. Tapi aku tlah jauh lebih kuat dari sebuah kata menangis. Kita sadar ini pasti akan terjadi. Sejak awal di saat kita telah berjumpa, berkomitmen, dan bersetubuh ; tetapi untuk berpisah. Memang benar-benar tidak adil. Perpisahan hanya ditentukan dengan empat jam saja. Di saat kita bertempur dengan waktu yang telah kita telanjangi bersama. Tapi memang tak pernah kita nikmati.

Dan hari ini. Di saat waktu telah berbatas. Kau pun hampir tidak peduli. Kau menghindar, menghilang dan menjauh. Apa kau tidak pernah bisa menerima kenyataan? Atau kau berusaha menghibur diri dan terus berharap?. Kau fikir aku tidak??. Kita memang selalu salah. Dan kita juga sering benar. Tapi kita selalu tidak beruntung. Apa yang kita rasa hanya bisa kita bagi, tapi tak bisa kita wujudkan.

Dan...untuk empat jam ini. Aku cuma bisa berharap. Ada sesuatu di email-ku. Ada sesuatu di handphone-ku. Sekarang. Hari ini ; Bukan besok!.

Jay